Dan … burung itupun berdarah …

PICT0043Walaupun tulisan ini terlambat saya posting-kan, tapi gak apa-apa, demi untuk mengenang bagaimana perjuangan anakku tersayang melawan rasa ketakutannya,.. dan akhirnya menang.

Ya sore itu dengan diiringi teriakan Allaahu akbar, bismillah hirrahmaanirrahim berkali-keli keluar dari mulut Firman dan disertai guyuran hujan, seekor burung telah rela dikorbankan untuk memenuhi perintah-Nya.  Sore itu hari Jum’at tanggal 10 Juli 2009 tepat pukul 15.30 Wita, anakku telah berhasil melawan rasa ketakutannya untuk dipotong sebagian “burung”-nya guna memenuhi seruan Nabi.

Memang  mulanya tidak mudah untuk dapat merayu agar ia mau di-sunat, namun dengan rayuan ibunya serta beberapa persyaratan yang diajukannya (ia mau asal dibelikan tenda untuk berkemah dan diajak berenang di “water boom”) akhirnya terjadilah kesepakatan “deal” untuk disunat.  Kami segera menghubungi pak Iskandar (mantri puskesmas yang sering menangani sunatan) dan beliau sepakat untuk melaksanakan di hari Jum’at tanggal 10 Juli 2009 jam 15.30 Wita.  Dan hari itupun tiba, akhirnya ……

Dengan teriakannya yang lantang dan dipegangi oleh ibunya, kami terus memotivasi agar ia mau menahan rasa kesakitan sesaat saja. Memang setelah disuntik bius oleh pak Iskandar (mantri dari puskesmas) ia tidak merasakan apa-apa pada bagian burungnya, sehingga pak Kandar – begitu beliau sering disebut- merasa leluasa untuk me-ngoprek burungnya dengan hati-hati.  Dengan sedikit operasi kecil -sampai berdarah-darah- akhirnya prosesi pemotongan burung anakku selesai, dan akhirnya burung itupun bisa bernyanyi.

Rasanya gak sakit yah ! begitu kata anakku saat kutanya bagaimana rasanya saat burungnya dipotong. Tapi kenapa Firman tadi berteriak, lanjutku bertanya.  Aku tadi cuman takut aja yah! jadinya aku berteriak ! begitu jawabnya dengan ringan sambil mengusap bekas air matanya.

Malamnya kami beri obat pengurang rasa sakit, agar tidak terasa sakitnya dan bekas jahitannya cepat kering.  Dan ia pun bisa tidur pulas.

Selamat nak ! kau telah mengalahkan rasa ketakutanmu tentang rasa sakit, demi malaksanakan perintah Rasul.  Semoga engkau menjadi anak yang soleh yang berbakti kepada kedua orang tua dan berguna bagi agama, bangsa dan masyarakat.  Amiin.

Tentang M. Yusuf Wahyudi

Suatu hari seorang mahasiswa sedang berjalan sendiri, sambil berfikir bagaimana seseorang bisa menjadi guru, padahal gaji guru saat itu masih susah. Ya seorang guru adalah sebuah cita-cita yang tidak direncanakan sebelumnya, namun Tuhan telah berkehendak untuk menjadikan seorang "yusuf" menjadi seorang "guru" ia seorang guru. Guru adalah seseorang yang tindakannya selalu "digugu" - diperhatikan dan "ditiru" - dicontoh. Akankah aku nanti dapat mengamalkannya ??????
Entri ini ditulis dalam Lain-lain. Buat penanda ke permalink.

5 Respon untuk Dan … burung itupun berdarah …

  1. sedjatee berkata:

    wadhuh… kirain apaan…. hehehe… ternyata pornoaksi, hehehe.. dan kekerasan dalam rumah tangga, berdarah-darah, hehehe…. salam sukses…..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  2. opick berkata:

    kasihan firman ….

  3. fahrudinbarabai berkata:

    wah…ni burung jadi semakin kuat kicauannya kalo sudah di kuliti…hehehehe

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s